Jumat, 10 Juni 2011

Cerita Untuk Saya

cerita untuk saya


Disini ranting itu berteriak ketika sebuah kaki menginjak

disini air itu berloncatan apabila batu dilemparkan padanya

tapi disini mereka hanya diam

ketika sebuah tangan butuh bimbingan


Satu mungkin lebih dari cukup untuk diberi

ketika segenggam mawar hancur diterpa angin

satu lebih baik dari tak ada

ketika mata tajam menatap mereka menyuruh pergi


aku enggan beranjak

aku hanya ingin bercerita

aku kan pergi kesana

apabila cerita itu tentang sesal


sebuah batu bergulir jatuh diatas batu

semilir hangin tertawa merasa tegar

mereka hanya sesat dalam ketakutan kita

karena waktu saja tak pernah ada dalam dekapannya



Untuk Segelas Teh Gegelisahan

Secangkir teh hangat menyerumput ruang mulutku membasahi rongga perutku, pagi yang dingin, hati yang dingin. Pikiranku menyeruak mengisi ruang kecil ini, setelah otak ini mengkonsumsi perjalanan kecil sehari kemarin. Terlalu banyak yang ku perhatikan sehingga semua keinginan bermula kembali pada hal-hal kecil yang melewati setiap garis waktu yang terjejer rapi membentuk sebuah cerita satu episode. Janji perjalanan membentuk sketsa-sketsa ruang dunia kecil sebuah ilusi manusia, fatwa waktu menggoreskan sebilah angkara membentuk tubuh-tubuh lusuh menjejeri panggung-panggung jalanan yang mencoba membayar semua keinginan dengan sebuah pandangan buram kehidupan di tanah yang kita sebut bumi pertiwi ini. Sehari itu tak mengapa, mungkin seharusnya tak menjadi apa-apa. Keinginan mengingatkan kepalan tangan sang durjana membentuk segumpal kediktatoran menghujam sudut-sudut kecil negeri agar tak ada mulut yang terbuka, agar tak ada otak yang bekerja , agar semua tangan terpangku dingin menggigil mengharap lembaran kecil rupiah sebagai pengganti sebuah kebebasan menginspirasi bangsa ini. Itu hanya sehari, itu hanya sedikit, sedikit bagi yang tak merasa, sedikit bagi yang mendurjanakan sebagian tubuh agar dipegang liar sang penguasa. Ada apa sobat ?, Apakah itu hanya teriakan sinis ?, Apakah itu wujud dari ketidakmampuan seorang yang menyebut dirinya penggerak, apakah itu simbol peduli yang dibelakangnya berbaris keinginan untuk juga menghujam pundi-pundi sang penguasa. Itu biasa kawan, itu terlalu biasa untuk di hujat, teman kita juga punya keinginan, teman kita juga butuh liburan, seperti cerita ambulan kosong yang memekakkan telingan menyeruak kencang diantara keramaian, hanya agar manusia lain menyingkir untuk sesuatu yang muskil. Semua hanya teriakan, teriakan-teriakankosong para pengumbar membentuk kelompok-kelompok kecil kawan dan rekan agar bisa berjalan seiring menghujani para pemberi dengan keinginan dibalik mengisi kekosongan ruang sang rakyat yang dianggap tidak perlu mengerti tentang apa dan bagaimana.


Selamat pagi matahari, terimakasih untuk pagi ini kembali menyeruak masuk menerangi ruangku, menerangi sisi-sisi gelap kawan-kawan kecilku yang berdiri berjejer menggelar rapat berdiri diantara kotak pundi dan mobil-mobil mewah menghiasi jalanan ruang rapat. Diantara tanda larangan dan pensil-pensil warna yang terkungkung rapi didalam kotak bekas gulungan merek-merek reklame kampanye sang penguasa yang lupa dulu mereka juga pernah teriak agar tak ditindas. Diantara sketsa anjing kecil berwajah lucu menelungkup dibawah kunci brankas disamping ruang tidur dibawah seragam para pegawai yang tak lagi melayani. Diantara tumpukan sampah para penghuni komplek yang lupa mereka juga punya tetangga yang berjuang mengais sampah mereka agar esok bisa membeli segantang beras murah untuk mengisi sedikit sisi perut kecil yang telah terbiasa tak makan.

Cukup sudah, pagar-pagar itu sudah cukup tinggi dan sangat rapat untuk dimasuki, cukup sudah cerita pengisi pagi ini karena esok hari masih ada cerita lain untuk sebuah bangsa yang masih harus kita cintai ini. ( untuk segelas teh kegelisahan)







Selasa, 15 Maret 2011

Cerita masa lalu dipagi ini



Musik itu mulai terdengar riuh diluar sana, ibu-ibu komplek mulai berdatangan berjejer rapi untuk memulai senam jantung sehat pagi ini. Kebiasaan yang dilakukan setiap hari rabu pagi disamping kontrakan ku. Tidak ada kegiatan hari ini yg bisa diriku lakukan, semua menunggu jadwal untuk turun ke lapangan, hidupkan Macbook dan online untuk sesaat membaca berita yang ada dibeberapa portal. Sungguh gampang hidup diera teknologi seperti hari ini, kita tidak perlu membeli koran atau majalah. Dengan 45.000 sebulan diriku bisa mendapatkan seluruh berita yang kumau pagi ini, walaupun dengan sedikit jengkel kalau sinyal sedang naik turun. Itu cerita lain, sekarang buka email untuk melihat apa yg ada di kotak suratku pagi ini, biasanya beberapa undangan dan cerita seru yang dikirim beberapa teman dari beberapa kota. Tidak seperti dulu, kalau ingin membaca diriku harus berdiri berjam-jam di toko buku untuk menamatkan satu buku, karena untuk membeli sebuah buku harus menabung satu bulan dari sisa hasil kerja menjadi buruh di sebuah toko. Itu cerita lama dari ilusi anak kampung yang matanya akan berbinar dengan sedikit mulut ternganga kalau mendengar cerita tentang besarnya metropolitan. Sekarang sedikit cerita itu telah terlewati, keagungan sebuah kota kita menjadi cerita biasa yang kukaji dengan kebiasaan juga, cerita tentang kebaratan yang masih bisa ku kaji dengan kesederhanaan yang sebenarnya terlalu dibesarkan oleh orang-orang disekitarku dimasa itu. Itu juga dimasa lalu, masa yang membentuk pikiranku untuk selalu bergerak menuju sebuah titik, walaupun itu gerak perlahan kami dari R10 menuju pintu rimba lalu berbanjar memasuki bangku panjang dan istirahat sejenak di bawah pohon besar di shelter satu, hingga tenda terpancang di shelter dua untuk menunggu mentari terbit esok hari di cadas agar bisa duduk bangga di puncak itu, dipuncak tertinggi Sumatera. Diriku masih ingat pagi itu didepan kantorku di kota minyak, sarapan pagi diantara sepinya pengunjung. Seorang paktua berbaju lusuh dan sandal jepit duduk di depanku, kami bercerita tentang kesibukan manusia pagi itu, ada sedikit tawaran untuk sarapan bersama dariku, bukan cari muka tapi kebiasaan yang dilakukan dilingkunganku mengharuskan seperti itu. Pak tua bertanya sopan, apakah aku akan mebelikan apabila dia memakan makanan itu?, tentu saja begitu jawabku keheranan, karena dalam hidupku diajarkan untuk berbagi dengan siapapun dan dimanapun berada. Itu hanya cerita kecil yang akhirnya berlanjut beberapa bulan kemudian diriku jumpa kembali dengan si tua itu. Duduk manis diatas jeep tua dan menyapa ku untuk ikut serta sore itu, ditempat awal kami jumpa dan tidak saling kenal nama. Kami berkeliling perkebunan puluhan hektar, ditengahnya berdiri megah sebuah rumah yang ternyata milik situa, kembali alam mengajar diriku untuk tetap rendah agar bisa menikmati yang mustahil. Itu masih cerita lama, dari keinginan baru untuk mensejajarkan diri dengan cerita lain tentang keagungan manusia-manusia di bumi. Ini cerita lain lagi tentang kesederhanaan hidup insan ciptaan sang kuasa yang dipanggil tuhan, pagi masih terlalu pagi untuk disebut pagi hari, kakiku bergerak melangkah menyusuri rimbunnya belukar lembah harau, mengambil beberapa gambar lalu bergerak kembali dengan motorku menyusuri jalan raya sang harau. Pagi tu masih terasa dingin diantara jatuhnya air disisi tebing yang tak tahu berumur berapa dikikis air yang jatuh kesisi bawahnya, mencari sudut lagi kembali bergerak keluar dengan kesendiriaanku diantara sunyinya alam pagi itu. Lalu lelah hinggap, membuat diriku duduk sejenak menikmati sang pipit mengambil padi yang akan dipanen, sesaat jadi berharga ketika seorang tua menurunkan sekarung rumput dan duduk diatasnya untuk melepas lelah, lelah yang bukan seperti diriku rasakan. Sapaan waktu membuat teguran dan mengalirlah cerita, tentunya cerita sang kakek tua yang terkurung waktu disudut sepi ini, 63 tahun hidupnya hanya berputar diantara lembah ini dan sesekali berwisata ke kota payakumbuh yang hanya berjarak 20 km dari posisi duduknya pagi itu. Terkurung waktu dan selalu berputar diantara ketakutan bergerak jauh, zona aman kata itu yg kuhindari agar selalu berputar dibumi yg luas ini. Itu juga hanya cerita lalu , lalu bagaimana dengan cerita esok hari ?, cerita yang dibangun untuk diceritakan kembali suatu saat.

Kamis, 25 November 2010

Cerita untuk hari ini diluar kandang waktu


Cerita untuk hari ini diluar kandang waktu


Rintik air menyamarkan suara-suara alam diluar sana, hujan terasa membasuh seluruh permukaan bumi ini. Seorang anak kecil berjalan lelah dengan teriakan serak. diantara gerimis hujan coba menjajakan makanan kecil pengganjal perut bagi mereka yang masih bangun malam ini. Miskin mendera mereka dan membuat anak itu coba untuk berjalan diantara dinginnya hujan dan malam. Teriakan itu mengingatkan diriku cerita tentang mereka yang coba mengais sampah dan memakan makanan yang ditemukan ditempat pembuangan sampat itu, itu cerita televisi sore tadi, cerita diantara sibuknya pemilihan pejabat di siaran lain dan sibuknya cerita tentang pejabat pajak yang menjadi penguasa para penguasa negeri ini. Semua jadi serba samar, semua tampak biasa saja sekarang, karena dimana-mana akan ditemui peristiwa serupa. Kucoba berjalan sebentar mencari kebisingan insan, tetapi semua tampak sepi diluar sana. sepi dari kemacetan yang ada, luasnya tempat parkir tersedia disamping jembatan itu menyamankan diriku melangkah jauh kedalam gedung , menjejaki diri diantara rak komersil berisi grafis penjualan sang pengusaha hidup. Bencana yang samar menghilangkan logika mereka, logika yang telah diasah bertahun lamanya, atau hanya sebagai bahan teori tampa ada tindakan dalam keseharian. Kasihan yang papa, yang menggantungkan kerongkongan diantara pendapatan perhari dari kurusnya tangan mengekang perut. Semua tampak serba biasa, seperti bisanya penyiksaan dan penipuan dinegeri ini. Aku lelah lalu pulang kedalam kandang waktuku, kembali berjejer dengan teman2 kecilku yang tak pernah mengeluh, yang tak pernah bertanya kapan gajian dan yang tak pernah menderita karena rasa. semua berlalu hingga mentaripun lelah berada diatas langit, hingga terawang senja mengitari gelap diri dan mata ini terpejam sesaat.